My Profile

My Profile

Ihra Yanwar Tumiwa At Wikipedia Indonesia

Advertisements

HILANG ( Cerpen )

Ku lihat jam di tangan kanan, waktu menunjukan pukul 5 pagi. Dan untuk ke tiga harinya aku tidak tidur, sebuah tanya besar dalam hidup setelah tertimpa sebuah masalah bertubi tubi, keluarga, cinta dan sahabat, di tangan kiriku sudah ku genggam sebuah tali untuk mengakhiri semuanya. Begitu lelahnya sebuah perjalanan hidup yang ku arungi dengan kedua telapak kaki, ku ikuti alunan hidupnya, ku jalani alur setapak jalan ini. aku aku kalah dalam peperangan hidup, iman ku lemah moralku hancur, akhlak ku berantakan. 3 hari tidak tidur, yang ada dalam pikiran hanya mati.. mati.. dan mati.. tak lama pintu bersuara dan aku beranjak berdiri sebelum aku buka pintu, aku lempar agar tidak ada yang mencurigai, apalagi air mata yang masih terlihat lebam seperti habis menangis. ketika ku buka pintu ternyata orang penting dalam hidupku, dia orang yang kucintai. tiba tiba dia menampar lalu menangis sambil berkata “Lemah !! tidak punya masa depan, tidak bertanggung jawab, bodoh !! sempit pemikiran hingga terlintas ingin mati, memang kamu tidak ingin menikah denganku, memang kau tidak ingin menaikan haji orang tuamu, bukankah itu impianmu ? katanya tidak mau mengecewakan sahabat sahabatmu, jika semuanya tau.. maka semuanya kecewa terhadapmu” aku hanya terdiam dan hanya diam sambil memandang wajahnya. dengan tamparan suaranya, se akan iblis yang merasukiku tadi lari ketakutan, pandangan dan pikiranku kembali terang, seperti aku dulu punya tuhan, sering beribadah dan sabar menghadapi apapun, ini baru masalah sepele masih banyak cobaan mengantri di hari hari akan datang, dan mungkin akan lebih berat lagi. dia menyadarkanku di hari ketiga aku lupa tuhan dan agamaku.

DEAR FATHER ( Cerpen )

Ayahku terbaring di rumah sakit sudah 4 bulan, menunggu matanya terbuka. kami sekeluarga menunggu. yah.. ayahku koma 4 bulan lalu, ayahku kecelakaan ketika sedang menyebrangi jalan di depan kantornya. kami hanya berdoa untuk orang yang menabrak ayahku agar di berikan kesehatan kelancaran dan di lindungi setiap langkahnya. ibu hanya bisa menangis di hadapan suaminya, aku tidak tahan melihat kondisi ibu, Sejak pertama ayah masuk rumah sakit, ibu tidak pernah pulang kerumah. aku menjadi pemimpin dan ibu di rumah untuk ke 5 adikku. memasak, mencuci baju, dan mengantarkan sekolah adikku yang paling bungsu.

 

Suatu hari aku sedang pergi ke kampus dan bertemu teman teman, karna  satu bulan aku tidak masuk kuliah, untuk menggantkan sosok ayah dan ibu di rumah. Ada sebuah kejanggalan di salah satu temanku, dia di kenal sebagai manusia senyum, karna seberat apapun se hancur apapun hidupnya, dia selalu tersenyum. Dia bernama Beni, aku pun menghampiri Beni

‘Hai ben ?” ketika ku sapa beni menghindar, sebuah ke anehan bagiku, ah.. tanpa pikir panjang aku meneruskan perjalanan menuju ruang kelasku, mungkin Beni mendapatkan masalah yang menurut dia tidak bisa di kalahkan oleh senyumannya. Aku tertawa kecil membayangkan itu “ahahahaha beni beni”

 

Setelah pelajaran di kampus beres , aku segera bergegas untuk ke rumah sakit, melihat kondisi ayah. Tak lama aku berjalan Beni memanggilku, “Yosi Tunggu, boleh aku ikut” dengan wajah takut dan pucat, semakin aneh Beni di mataku “ya boleh lah Ben, lu kenapa, ga biasana, galau wanita lu yah?” sambil becanda  dalam perjalanan kita. Beni hanya membalas senyuman kecil dan kembali melamun, seperti memikirkan sesuatu yang begitu rumit.

“Hei, Ben lu kenapa sih ?” nada ku bertanya aga tinggi, karna penasaranku terhadap Beni. “ga yos, nanti aku jelasin di rumah sakit yah” jawabnya sambil menundukan kepala. aku sejenak menghentikan langkahku dan memandang Beni yang terus melaju.

“apakah Beni yang menabrak ayah ??’ Suara kecilku

Setiba di rumah sakit, Beni berlari sambil menangis menghampiri ayah. “Dugaanku semakin dekat, bahwa Benilah yang menabrak ayah.

 

“Om saya datang kesini untuk meminta maaf atas nama keluarga, terutama ayah saya om. 4 hari lalu ayah meninggal karna serangan jantung, 3 hari sebelum ayah meninggal dia bilang ke padaku, Bahwa ayah menabrak seseorang, tolong sampaikan maaf ayah kepadanya, bahwa yang ayah tabrak adalah ayah dari temanmu yosi. Maafkan saya om”

 

aku terdiam kaget, emosi namun tidak bisa aku marah terhadap Beni, Aku hanya bisa meneteskan air mata, ternyata dugaanku salah. ayahnya lah yang menabrak ayahku..

ayah pun menjawab dengan suara sedikit tidak jelas namun bisa di mengerti Beni, aku dan ibu.. “Semenjak ayahmu menabrak om, om sudah memaafkan ayahmu nak, om ikhlas atas kejadian ini, bahwa kita tidak pernah tau kapan mati dan kapan akan terjadi hari esok karna itu misteri”

 

kita semua terdiam dan menangis akan perkataan ayah..

“THE END”

 

SEMOGA BERMANFAAT DAN PESAN MORAL YANG SAYA SAMPAIKAN BAHWA HIDUP UNTUK MATI ITU MISTERI DAN HIDUP UNTUK ESOK HARI ITU MISTERI.. SELALU INGATLAH PADA TUHANMU SETIAP LANGKAH.. SIAPA TAU HARI INI KITA MATI !!!

KEMATIAN DI UJUNG PERANTAUAN ( Cerpen )

Aku adalah Rio, seorang lelaki perantau dari sumatra. Aku merantau ke salah satu kota besar di indonesia, pertama kali menginjakan kaki di kota tersebut, aku menemukan ketenangan dan keindahan, orang yang ramah satu sama lain. 4 tahun lamanya semua berjalan sesuai dengan yang ku inginkan, yaitu aku sehat dan selamat di kota orang. namun suatu kejadian datang yang begitu menggegerkan indonesia, di kota dimana aku tinggal sebagai perantau.

ini tragedi tentang perang saudara dimana iman mereka sedang di uji, aku berada di tengah tengah mereka, di tengah pertikaian yang membanjiri darah di jalan, rumah dan tubuh mereka. aku takut pulang, aku takut bertemu orang orang, aku takut mati, aku hanya punya Allah tempat aku berlindung, hanya istigfar tameng hidupku, aku mempasrahkan diri bahwa aku siap mati dimana aku berada di tempat orang orang yang sedang kehilangan iman.

Suatu ketika ketika aku sedang bersembunyi di suatu tempat, aku bertemu seorang laki laki berbadan besar yang sedang memegang sendata api. sekejap aku shock dan berkata dalam hati “Aku mati hari ini”

“Hey kamu ! apakah kamu orang sebrang ?” tanya dia dengan amarah

“iya aku orang sebrang pak, tapi aku tidak tahu apa apa tentang kejadian ini” jawabku dengan rasa takut. terbayang sepucuk senjata di hadapan mata. aku langsung berdialog dengan Tuhanku “ya allah, jika hari ini kau memanggilku, aku pasrah, dan jika kau memberikan aku untuk menjalankan hidup yang masih banyak aku belum mempelajari agamamu, tunjukanlah ya allah”

Lelaki itu memanggil teman temannya ada yang membawa golok, panah dan senjata tajam lainnya. Aku hanya diam dan pasrah. inilah akhir dari kisah hidupku, berharap ada yang memberi kabar keluargaku disana.

“Kamu tahu, kami sedang mencari orang orang yang membunuh kerabat kerabat saya, pasti kamu salah satunya” dia bertanya sambil meletakan golok di leherku. aku hanya bisa menjawab dengan seadaanya dan jujur, bahwa aku memang tidak tahu kejadian ini, aku hanya seorang perantau yang mengais rejeki disini, “tuhan kau maha pelindung, dan aku berlindung dari ketakutanku, tegarkan aku tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi ini”

seketika aku menjawab pertanyaan mereka dengan lancar dan tenang

“aku perantau, disini hanya mencari rejeki untuk keluarga dan calon istriku disana, tidak sedikitpun aku mengetahui tragedi ini, jika pandangan kalian, aku memang orang yang kalian cari seperti orang orang lain yang kalian bunuh sebagai musuh, maka bunuh lah saya pak, aku siap mati dijalan allah walaupun aku tidak berjihad berperang, aku berjihad melawan imanku hari ini”

entah mengapa senjata yang mereka pegang, di turunkan dari leher dan tubuhku, aku mengkerutkan kening seketika itu juga “apakah ini jawaban Tuhan terhadapku?’ tanya hatiku..

“baiklah, aku percaya, dijalan sana ada sebuah jalan kecil, kamu akan bertemu pasukanku, bilang saja kau saudara dari Beno, nama ku Beno, naiklah kapal pesiar dan pulanglah kerumah”

Entah apa yang harus aku rasakan, bahagia ? sedih ? yang jelas Tuhan memang berada di umatnya yang selalu ingat dan taat terhadap agama nya.. seketka itu juga aku pulang menuju rumah. dan mencari kerja di daerah rumah saja, biarkan ini menjadi kenangan terindah dalam hidupku

Pesan : Tuhan tidak tidur, jika kita melupakannya, maka Tuhan melupakan kita, jika kita selalu ingat dalam keadaan apapun maka Tuhan akan selalu ingat terhadap umatnya

SEMOGA BERMANFAAT CERPENNYA :D